KOPI DAN PENA



Layak nya rindu dan malu , kopi dan pena ini selalu menjadi sahabat terbaik dalam sebuah perjalanan , bahkan kita akan sering menjumpai dalam beberapa novel ternama yang mengambil judul tentang kedua nya, gw sendiri mengibaratkan kopi seperti raja dan pena adalah ratu nya , kedua nya selalu terlibat dalam setiap perjalanan gw, hampir setiap tempat yang gw kunjungi kopi seakan menjadi primadona dalam memecahkan hening nya suasana , bahkan ketika hujan turunpun kopi menjadi kekasih nyata yang selalu setia menemani kita, tidak banyak yang bisa dia lakukan, namun sampai saat ini kopi adalah pendengar terbaik setiap keluh kesah penikmat nya, dia rela Berjam-jam menemani lamunan kita, sampai kita lupa bahwa dia sudah terabaikan dalam dingin,dia juga selalu setia ketika menanti kata cinta dari seseorang yang kita puja ,meski akhir nya cinta itu tak berbalas,namun pada akhir nya cinta kita akan berlabuh pada kopi itu sendiri, walaupun dia hanya  pelarian dari kisah para penikmat nya  , namun dia akan tetap memberikan rasa terbaik untuk para penikmat nya, ketika menyambut sang fajar datang pun , dia adalah sosok yang paling pertama kita cari, seakan kita tidak ingin melewati moment ini tanpa dia,karena konon dari segelas kopi ini lah, seseorang dapat menikmati hari hari nya penuh dengan makna,entah filosofi dari mana tapi yang jelas segelas kopi lebih berharga dan setia, jika di bandingkan sebuah rindu tak bertuan atau cinta Tak berbalas.


Lantas bagaimana dengan sang "pena" itu sendiri . Gw sendiri sebenarnya bukan seorang penulis atau pembaca aktif sebuah novel atau buku buku bacaan lain nya, gw lebih suka menikmati sebuah perjalanan dengan cara gw sendiri. Namun seperti kopi , sebuah buku kecil dan pena selalu menemani dalam setiap perjalanan, sang pena akan selalu menari di atas buku kecil gw ketika rasa jenuh dalam sebuah perjalanan panjang tiba, terkadang hal konyol tak luput dari sebuah coretan tinta hitam itu sendiri, tentang harga tiket dari satu tempat ke tempat lain selalu menjadi sampul utama setiap lembar nya,di susul oleh beberapa tulisan puitis layak nya pujangga cinta, meski banyak kalimat kalimat yang menyimpang dari kamus besar bahasa Indonesia dan penempatan tanda baca yang masih berantakan, namun tidak mengurangi makna dalam setiap paragraf nya,membiarkan sang pena menari sebagaimana gerakan tarian ,yang selalu mengikuti nada pada alunan musik, biarkan dia menceritakan apa yang terjadi pada saat itu ,menceritakan tentang ke gelisahaan hati nya,mungkin dengan cara seperti itu sang pena bisa merasa sedikit nyaman dari rutinitas kesibukan nya.
Dan pesan untuk para pembaca tulisan ini bahwa.
" Coretan tinta hitam itu tidak bersumber dari seorang penulis hebat , namun tinta hitam itu hanya bersumber dari sebuah perasaan penulis nya".
Mungkin sang pena adalah teman setia sang penulis dalam  perjalanan nya , sedangkan sang kopi ada teman setia dalam sebuah peristirahatan....

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan hati

Backpacker Jakarta - Lombok ( part 2 )