Mati di gunung adalah ke hormatan
Entah jargon dari mana bahwa mati di gunung adalah suatu ke hormatan,atau bahkan kebanggaan? Sebuah pendakian bukan lah ajang untuk kita setor nyawa pada alam, mendaki bukanlah ritual yang harus selalu di akhiri dengan berita duka, harus sampai kapan, untuk sebuah pengakuan kita rela kehilangan nyawa, meninggalkan duka pada keluarga, system dan pola fiqir konyol ini harus berakhir? di mulai dari diri kita masing masing, tanyakanlah pada diri kita untuk apa kita mendaki? Alam sudah sering menegur keras kepada kita , apakah masih kurang? Hentikan membuat berita duka dalam kasus pendakian karena tidak hanya kamu dan dirimu yang di rugikan tapi banyak pihak yang akan sangat di rugikan hanya untuk mengevakuasi jasad seorang pendaki konyol, jangan bilang kematian akan tiba dimana saja bila Tuhan sudah mentakdirkan, kenapa tuhan selalu di libatkan dalam kebodohan umat nya? Takdir tuhan hanyalah untuk mereka yang sudah menjalankan aturan yang ada namun masih tersesat dan harus mati di gunung , bukan untuk orang yang mendaki hanya untuk sebuah pengakuan dengan persiapan yang seadanya , Untuk orang orang seperti itu, di mana kalian meletakan posisi tuhan dalam diri kalian.ikutilah aturan yang ada dan mendaki lah dengan aman dan safety, meski terkadang kita memang harus keluar dari jalur aman untuk belajar, namun bukan berarti kita bisa seenak nya, tentu semua harus ada dasar ke ahlian dalam hal mountenering, entah itu dalam hal navigasi,survivel ataupun PPGD, karena jika tidak nyawa kalian lah yang akan menjadi taruhan nya, jangan anggap ini hal sepele karena jumlah kematian dalam pendakian terus bertambah seiring bertambah nya exsistensi jejaring sosial menjadi alasan nya,sudah cukup kita di beban kan oleh masalah pencemaran lingkungan , sampah di gunung dan kerusakan alam, jangan sampai kita tambah lagi dengan berita duka atas kematian kita, hanya ada dua pilihan untuk kembali ketika kita mendaki
1.kembali kerumah, atau
2.kembali kepangkuan tuhan.
Maka perbaikilah niat kita sebelum memulai nya,untuk apa kita " mendaki " ?

Comments
Post a Comment